Tidak ada seorang pun yang bisa memungkiri bahwa saat ini kita hidup dalam Era Informasi. Bahkan kita tidak menyadari bahwa saat ini kita sudah sangat ketergantungan pada sarana-sarana Informasi.
Sebutlah, sebuah HP milik kita terkadang fungsinya lebih penting dari dompet, di suatu negara maju malah HP bisa menjadi alat pembayaran elektronik. Sarana per-televisian-an pun tidak ketinggalan dan malah berkebang begitu pesatnya, diikuti sarana informasi lainnya seperti media cetak dan media suara.
Ditambah lagi dengan hadirnya WWW sebagai salah satu infrastruktur yang lahir di era baru ini yang dapat menghubungkan jutaan komputer yang telah ada sebelumnya, kemudian dikenal dengan INTERNET.
Tujuan dari sarana-sarana informasi ini adalah agar manusia bumi dapat berinteraksi antara satu dengan lainnya secara bebas tanpa hambatan jarak dan waktu, dan tanpa hambatan batas-batas negara.
Dengan mudahnya manusia saling berinterasi melalui sarana-sarana informasi ini tanpa disadari telah membentuk JARINGAN MANUSIA DUNIA atau Global Networking dan mengarah pada satu dunia tanpa batas (one world).
Melalui kecanggihan teknologi dan efektifitas penyebaran informasi telah memberdayakan manusia dan memposisikan manusia sebagai KEKUATAN BARU di era baru ini, karena manusia telah menjadi modal potensial sebagai pembuat informasi, penyebar informasi, sekaligus yang membutuhkan informasi.
Sehingga tidaklah lebay (baca: berlebihan) jika China dan India disebut-sebut sebagai KEKUATAN DUNIA BARU ABAD 21, karena China dan India memiliki stok manusia (baca: Sumber Daya Manusia) yang terbanyak di dunia.
Interaksi manusia dalam dunia tanpa batas ini membentuk pertukaran informasi yang tak disadari melahirkan PELUANG-PELUANG BESAR.
Diantara peluang yang tercipta maka lahirlah sistem bisnis yang berhubungan dengan orang-orang secara langsung melalui jaringan internet yang telah dikenal dengan Network Marketing, dan bisnis yang berhubungan dengan orang-orang di balik komputer yang terhubung dengan internet, yang dikenal dengan Internet Marketing.
KEKUATAN MANUSIA : BENTUK PERLAWANAN FAHAM KAPITALISTIK
Kembali pada pokok bahasan MANUSIA sebagai KEKUATAN BARU di era informasi, dan menghubungkannya pada wilayah bisnis, maka sarana-sarana informasi telah menjadi alat perekat yang sangat kuat dan efektif dalam membentuk KEKUATAN-KEKUATAN baru dalam pemberdayaan manusia (people power).
Selama ini, manusia yang lebih banyak (kelompok mayoritas) selalu saja “dikendalikan” oleh manusia lain yang lebih sedikit (kelompok minoritas), khususnya dalam ranah (sektor) ekonomi. Kelompok minoritas mengandalkan kekuatan kapital (modal) sebagai alat “penguasaan” kelompok manusia lain.
Memang, siapa pun kita tidak pernah bisa memungkiri bahwa kekuatan modal adalah satu-satunya alat kekuasaan dalam dunia ekonomi (bisnis). Dan siapa pun kita yang tidak memilikinya (kekuatan modal), maka kita pasti akan selalu berada dalam “kelompok mayoritas terkuasai”. Inilah faham yang telah berkembang secara global hingga saat ini.
Faham ini dikenal dengan faham kapitalisme, suatu faham yang diperkenalkan oleh seorang tokoh ekonomi, Adam Smith, yang saat itu menyerang faham Merkantilisme. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah pun tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama.
Kapitalisme hadir sebagai bentuk perlawanan faham Merkantilisme, ajaran ini sangat dominan di seluruh eropa sejak abad 16 - 18. Kebutuhan akan pasar yang sesuai diajarkan oleh faham ini akhirnya memdorong banyak peperangan di kalangan negara Eropa dan Imperialisme Eropa dan akhirnya memicu sistem kapitalisme lahir dan berkembang.
Paham kapitalisme telah mendapatkan banyak kritik sejak dulu karena keberadaannya dianggap sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah dan ini jumlahnya justru lebih banyak. Dan bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, namun idiologi lain yang ingin melenyapkannya, misal komunisme.
Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.
Bentuk wadah bisnis (baca: enterprise) yang berbasis paham kapitalisme baik itu bersifat state (pegusaaan negara) maupun private (penguasaan perorangan/kelompok orang minoritas) selalu memiliki 3 elemen, yaitu PEMILIK (pemodal/pemegang saham), PENGELOLA (manajemen), dan PELANGGAN (konsumen). Jika digambarkan maka akan membentuk flow hierarchy (alur hirarkis) yang bersifat simbiosis mutualistis (saling menguntungkan).
Dari 3 elemen di atas, masing-masing mendapatkan benefit dari bentukan enterprise. PEMILIK memperoleh semua hasil bersih dari setiap aktivitas enterprise, yang selama ini dikenal deviden, PENGELOLA memperoleh gaji, dan PELANGGAN memperolah produk (sometimes potongan harga).
Jika kita cermati dan sadari bahwa pemanfaatan KEKUATAN MANUSIA (baca: kekuatan = potensi ekonomi) belum TERBERDAYAKAN secara maksimal. Manusia masih terkelompok dalam kotak-kotak sesuai posisi, porsi dan fungsinya, hal ini kelihatannya wajar dan masuk akal, tapi seharusnya ini tidak berlaku lagi karena zaman dan peradaban era baru menuntut adanya perubahan baru KEKUATAN BARU.
Zaman dan peradaban era informasi dengan simpul kekuatannya adalah MANUSIA, maka saat ini merupakan momentum besar untuk mewujudkan sistem ekonomi yang berbasis MANUSIA yang diwadahi dalam suatu wadah usaha (bisnis/perdagangan) berbasis KOMUNITAS dimana pemilik, pengelola, dan pelanggan adalah satu kesatuan dalam komunitas itu sendiri.




1 komentar:
ditunggu part-2 selanjutnya...
Posting Komentar